Tidak semua orang yang terinfeksi virus Corona akan mengalami gejala COVID-19 yang parah berupa sesak napas, nyeri dada, dan demam tinggi. Ada sebagian penderita COVID-19 yang hanya mengalami gejala ringan seperti flu. Bahkan, ada juga yang tidak mengalami gejala sama sekali walau sudah positif terinfeksi virus Corona.

029432700_1581652262-20200214-Pasien-Virus-Corona-5.jpg

 

Berdasarkan informasi dari WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gejala berat dan komplikasi serius akibat COVID-19 lebih sering dialami oleh orang lanjut usia dan orang dengan kondisi medis tertentu, misalnya orang yang menderita penyakit tidak menular (PTM) kronis.

Mengapa Penderita PTM Rentan terhadap Infeksi COVID-19?

Penyakit tidak menular kebanyakan bersifat kronis, yaitu terjadi secara perlahan dan bisa menetap dalam jangka waktu yang lama. Selain berlangsung lama, penyakit kronis juga dapat menyebabkan kondisi kesehatan penderitanya menurun secara bertahap, sehingga rentan terkena infeksi.

Menurut beberapa studi, orang yang terinfeksi virus Corona dan menderita penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gejala berat yang fatal, seperti halnya pada lansia.

Hal ini dikarenakan penyakit kronis menyebabkan sistem kekebalan tubuh penderitanya melemah dan lebih sulit melawan infeksi. Akibatnya, tubuh penderita penyakit kronis akan lebih mudah terserang penyakit, termasuk COVID-19 yang disebabkan oleh infeksi virus Corona.

Selain itu, penderita penyakit kronis juga kebanyakan sudah mengalami kerusakan organ. Ketika terserang virus Corona, kerusakan organ tersebut bisa menjadi semakin parah, sehingga gejala COVID-19 yang muncul juga bisa lebih berat.

Apa Saja Jenis Penyakit yang Membuat Penderitanya Rentan terhadap COVID-19?

Ada beberapa penyakit yang diketahui dapat membuat penderitanya berisiko tinggi terinfeksi virus Corona dan mengalami COVID-19 dengan gejala yang lebih berat, yaitu:

1. Gangguan pernapasan kronis

COVID-19 umumnya menyerang saluran pernapasan. Oleh karena itu, orang yang memiliki penyakit kronis pada saluran pernapasan, seperti PPOK dan asma, berisiko tinggi mengalami gejala yang parah ketika terinfeksi virus Corona.

Ketika terjangkit COVID-19, penderita penyakit pernapasan kronis akan lebih rentan mengalami gangguan pernapasan berat, seperti serangan asmapneumonia, atau bahkan gagal napas.

2. Penyakit kardiovaskular

Penderita penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, dan hipertensi, umumnya memiliki kondisi jantung yang kurang baik dan sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah. Hal ini membuat para penderita penyakit tersebut rentan menderita COVID-19 dengan gejala yang lebih berat.

Beberapa laporan pun menyebutkan bahwa risiko kematian akibat COVID-19 pada penderita penyakit kardiovaskular lebih tinggi daripada penderita COVID-19 yang sebelumnya sehat.

3. Diabetes

Diabetes yang tidak terkontrol lama-kelamaan dapat menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh dan kerusakan pada berbagai organ tubuh. Inilah yang membuat penderita diabetes lebih rentan terkena COVID-19 dan komplikasi fatal akibat infeksi virus Corona.

Selain itu, infeksi virus Corona juga terlihat dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi berbahaya dari penyakit diabetes, seperti ketoasidosis diabetik dan sepsis. Berbagai komplikasi diabetes tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kematian akibat COVID-19 pada penderita diabetes.

4. Penyakit ginjal

Infeksi virus Corona paling banyak menyerang saluran pernapasan, tetapi virus ini juga bisa merusak organ tubuh lainnya, termasuk ginjal. Beberapa laporan juga telah menyebutkan bahwa ada sebagian penderita COVID-19 yang mengalami gagal ginjal akut, padahal mereka tidak memiliki riwayat penyakit ginjal.

Selain itu, infeksi virus Corona juga diketahui lebih berisiko terjadi pada orang yang memiliki penyakit ginjal kronis, rutin menjalani prosedur cuci darah, atau pernah menjalani operasi transplantasi ginjal.

5. Kanker

Penderita kanker tergolong dalam kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi virus Corona dengan gejala berat dan komplikasi serius. Hal ini lantaran sistem kekebalan tubuh para penderita kanker tidak kuat dalam melawan infeksi.

Lemahnya sistem kekebalan tubuh penderita kanker ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya gangguan pada sel darah putih atau efek samping kemoterapi.

Selain beberapa penyakit di atas, COVID-19 juga lebih berisiko menyerang penderita penyakit autoimun. Hal ini karena penderita penyakit tersebut umumnya akan mendapatkan obat-obatan penekan sistem imun, sehingga daya tahan tubuh mereka lemah dan rentan terserang infeksi.

Apa yang Harus Dilakukan Penderita PTM Selama Pandemi COVID-19?

Penderita penyakit tidak menular di atas disarankan untuk menerapkan social distancing, yang kini disebut juga physical distancing, guna mengurangi risiko terkena COVID-19. Jika harus keluar rumah, batasi jarak dengan orang lain minimal 1,5–2 meter dan hindari kerumunan atau tempat-tempat yang ramai.

Selain itu, penderita penyakit kronis juga perlu rutin mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter agar penyakitnya dapat terkontrol.

Selama masa sulit ini, penderita PTM perlu tetap menjalani pola hidup sehat untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rajin mencuci tangan, mengurangi stres, rutin berolahraga di rumah, dan menjauhi asap rokok.

Jika Anda memiliki penyakit kronis yang telah disebutkan di atas dan mengalami gejala demam, batuk, atau sesak napas, terlebih jika Anda pernah kontak dekat dengan orang yang menderita atau dicurigai menderita COVID-19, segeralah hubungi rumah sakit atau hotline COVID-19.

Bila masih ragu, Anda bisa cek risiko infeksi virus Corona atau mencari informasi melalui internet serta Anda juga bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit.

 

sumber : alodoc